Jakarta, TIKUS TANAH -- Papua Barat adalah bagian yang
tak terpisahkan dari komunitas Pasifik. Hal itu ditandai dengan Papua
Barat terlibat dan menjadi anggota dalam South Pasific Commision (SPC).
Dalam keterangan tertulis yang diterima majalahselangkah.com,
Selasa (1/9/2015), sekretaris umum Komite Nasional Papua Barat (KNPB)
Pusat, Ones Suhuniap menegaskan, sebelum Papua Barat dianeksasi
Indonesia pada tahun 1961 (saat itu Netherland Niew Guinea) Papua Barat
ikut terlibat dalam pertemuan-pertemuan yang dilakukan oleh
negara-negara di kawasan Pasifik.
"Sejak saat itu kolonial
Indonesia telah mengeluarkan West Papua dari pertemuan-pertemuan
kawasan, dan menjadikan West Papua sebagai ladang pembantaian,
eksploitasi Sumber Daya Alam (SDA)," tulis Suhuniap dalam keterangan
tertulis itu.
Meski demikian, lanjut dia, perjuangan politik West Papua untuk menentukan nasib sendiri terus berlanjut.
Pernyataan
itu dipertegas Ketua Umum KNPB Pusat, Victor Yeimo. Kata dia,
perjuangan bangsa Papua Barat untuk menentukan nasib sendiri yang
dilakukan masyarakat adalah bagian dari upaya melengkapi proses
Dekolonisasi di kepulauan-kepulauan Pasifik yang belum tuntas sepenuhnya
dilaksanakan. Penindasan yang sedang dialami oleh bangsa Papua adalah
bagian dari krisis yang mengganggu stabilitas politik, ekonomi di
kawasan Pasifik.
"Kami berharap para Pemimpin negara-negara Pasifik untuk mendesak PBB memberikan 'advisory opinion'
(nasehat hukum) tentang status hukum dan politik West Papua dan
mendorong West Papua didaftarkan ke komite dekolonisasi PBB," ungkap
Yeimo.
Kehancuran hutan Papua yang merupakan nafas bagi planet
ini, dihancurkan akibat kolonialisme Indonesia dan kapitalisme global.
Hal itu adalah adalah ancaman yang mengerikan dagi masa depan
pulau-pulau di Pasifik dari ancaman global warming.
"Tidak
ada cara lain, selain membebaskan West Papua dari kolonialisme
Indonesia dan kapitalisme global demi menjaga hutan sebagai sumber
kehidupan kita," kata Victor tegas.
Ditegaskan, saat ini
Indonesia menjadikan Papua sebagai wilayah protektorat yang harus
diisolasi dari pantauan internasional selain pemusnahan etnis bangsa
Papua secara terbuka maupun tersistematis terus berlangsung di Papua.
Ia
meminta para pimpinan negara-negara Pasifik untuk mengirim tim Pencari
Fakta untuk menginvestigasi kejahatan kemanusiaan yang dilakukan
Indonesia terhadap masyarakat asli Papua.
Yeimo juga memberikan dukungan kepada United Lilberation Movement for West Papua
(ULMWP) yang akan hadir mewakili rakyat Papua Barat sebagai observer
untuk berperan aktif dalam membicarakan serta menyelesaikan persoalan di
kawasan Pasifik secara bersama-sama pada Forum Kepulauan Pasifik (Pasific Island Forum/PIF) di Papua Nugini yang akan berlangsung 7-11 September 2015 mendatang.







